Religi Umum Humor Tutorial
Adam As. Idris As. Nuh As. Hud As. Saleh As. Ibrahim As. Ismail As. Ishaq As. Yaqub As. Yusuf As. Zulkifli As. syuaib As. Musa As. Harun As. Daud As. Sulaiman As. Ilyas As. Ilyasa As. Ayub As. Yunus As. Zakaria As. Yahya As. Luth As. Isa As. Muhammad SAW
Post Icon

Politik Humor Gus Dur





Seorang pejabat tinggi, sebut saja si Fulan, merasa deg-degan dicap sebagai


koruptor oleh Gus Dur. Sebab, Gus Dur mengatakan bahwa perbuatan tertentu yang


dilakukan si Fulan tak bisa lain kecuali diartikan korupsi. “Dibolak-balik


bagaimanapun, itu adalah korupsi. Titik,” kata Gus Dur.


Mungkin atas permintaan si Fulan atau diimbau orang lain, salah seorang yang


dekat dengan Gus Dur meminta agar Gus Dur tak lagi menyerang si Fulan, apalagi


dengan tuduhan korupsi. Si Fulan dalam kasus itu sama sekali tak melakukan


korupsi, melainkan sekadar meneruskan secara resmi sebuah permohonan. Apalagi,


ada yang memalsukan susbtansi persoalannya. Gus Dur pun setuju untuk tak lagi


mengatakan si Fulan korupsi


Tetapi besoknya, Gus Dur bilang si Fulan itu tergolong teroris karena ikut


mendalangi beberapa kerusuhan. Ketika ditanya mengapa masih menyerang si Fulan,


padahal sudah menyatakan tak akan menyerangnya lagi, Gus Dur pun menjawab bahwa


dirinya sudah memenuhi janji untuk tidak lagi mengatakan si Fulan korupsi.


“Saya tadi kan tak bilang dia korupsi, saya hanya bilang teroris,” jawabnya


enteng.


***


Cerita tersebut menunjukkan kelihaian Gus Dur melakukan serangan politik sambil


berkelit dengan mengundang senyum geli. Serangan atau kelitan poitik Gus Dur


kerap mengundang tawa geli karena selain sangat keras juga lucu. Dia memang


dikenal sebagai penyaji humor politik tingkat tinggi.


Kita masih ingat humor politik Gus Dur yang dilempar kepada Presiden Kuba Fidel


Castro. Ketika melakukan kunjungan kenegaraan ke Kuba, Gus Dur memancing tawa


saat menyelingi pembicaraannya dengan Castro bahwa semua presiden Indonesia


punya penyakit gila. Presiden pertama Bung Karno gila wanita, presiden kedua


Soeharto gila harta, presiden ketiga Habibie benar-benar gila alias gila


beneran, sedangkan Gus Dur sendiri sebagai presiden keempat sering membuat


orang gila karena yang memilihnya juga orang-orang gila.


Sebelum tawa Castro reda, Gus Dur langsung bertanya. “Yang Mulia Presiden


Castro termasuk yang mana?” Castro menjawab sambil tetap tertawa, “Saya


termasuk yang ketiga dan keempat.”


Apa selesai sampai di situ? Tidak. Ketika mengunjungi Habibie di Jerman, oleh


orang dekat Habibie Gus Dur diminta mengulangi cerita lucunya dengan Castro


itu. Merasa tak enak untuk menyebut Habibie benar-benar gila atau gila beneran,


Gus Dur memodifikasi cerita tersebut. Kepada Habibie, dia mengatakan, dirinya


bercerita kepada Castro bahwa presiden Indonesia hebat-hebat.


Kata Gus Dur, Presiden Soekarno negarawan, Presiden Soeharto seorang hartawan,


Presiden Habibie ilmuwan, sedangkan Gus Dur wisatawan.


Selain menghindari menyebut Habibie benar-benar gila, jawaban itu sekaligus


merupakan jawaban Gus Dur yang bersahabat atas kritik bahwa dirinya sebagai


presiden banyak pergi ke luar negeri seperti berwisata saja.


Gus Dur memang sangat humoris. Bahkan, pelawak-pelawak Srimulat jadi kelabakan


jika beradu lucu dengan Gus Dur. Suatu saat, Tarzan Srimulat dan kawan-kawan


mengaku kehabisan bahan untuk melucu karena acaranya didahului dengan sambutan


Gus Dur yang sangat lucu. Dalam melucu, Gus Dur tak jarang memulai dengan


menertawai dirinya sendiri sehingga orang lain tak tersinggung.


Ketika berceramah di depan kerumunan massa, misalnya, Gus Dur mengajak massa


untuk membaca salawat bersama-sama dengan suara keras. Setelah itu, dia


mengatakan, selain mencari pahala, ajakan membaca salawat tersebut adalah untuk


mengetahui berapa banyak orang yang hadir.


“Dengan lantunan salawat tadi, saya jadi tahu berapa banyak yang hadir di sini.


Habis, saya tak bisa melihat. Jadi, untuk tahu besarnya yang hadir, ya dari


suara salawat saja,” jelasnya.


Tapi, humor dan kelitan Gus Dur bukan sekadar lucu-lucuan. Ketika pada


1998/1999 terjadi kontroversi panas mengenai wacana negara kesatuan dan negara


federal, Gus Dur menawarkan solusi agak lucu tetapi mengena. Ketika itu, Amien


Rais dengan bendera PAN mengajak kita berwacana atau memikirkan kemungkinan


Indonesia menjadi negara federal. Menurut Amien, negara federal bisa lebih


demokratis diterapkan di negara sebesar Indonesia.


Ajakan itu kontan mendapat tanggapan panas, misalnya, dari Akbar Tandjung


(Golkar) dan Megawati (PDIP). Amien diserang habis karena dianggap mau merusak


keutuhan dan persatuan bangsa dan negara.


Ketika ditanya soal kontroversi itu, Gus Dur mengatakan, negara federal baik


karena menjamin lebih demokratis, sedangkan negara kesatuan baik karena lebih


menjamin keutuhan bangsa.


“Kalau saya begini saja, namanya tetap negara kesatuan, tapi isinya pakai


negara federal. Gitu saja kok repot,” kata Gus Dur dalam wawancara eksklusif

Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar